
Fenomena abrasi pantai kembali menjadi perhatian serius di wilayah Demak, di mana garis pantai dilaporkan terus mengalami penyusutan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menyebabkan puluhan rumah warga di kawasan pesisir terancam hilang akibat tergerusnya daratan oleh gelombang laut.
Warga setempat menyebutkan bahwa air laut kini semakin sering masuk ke area permukiman, terutama saat pasang tinggi dan cuaca buruk. Beberapa rumah bahkan sudah mengalami kerusakan pada bagian fondasi akibat terus-menerus terpapar air laut dan ombak yang kuat.
Selain rumah warga, fasilitas umum seperti jalan desa dan area tambak juga ikut terdampak. Banyak tambak ikan dan udang yang tidak lagi dapat digunakan karena sudah berubah menjadi perairan terbuka. Hal ini berdampak langsung pada mata pencaharian masyarakat pesisir yang bergantung pada sektor perikanan.
Penyebab utama abrasi ini diduga berasal dari kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia, termasuk berkurangnya vegetasi mangrove yang berfungsi sebagai pelindung alami pantai. Tanpa adanya penahan alami, gelombang laut dengan mudah mengikis daratan secara perlahan namun pasti.
Upaya penanganan mulai dilakukan dengan penanaman kembali mangrove di beberapa titik serta pembangunan tanggul sementara untuk menahan laju air laut. Namun, warga menilai langkah tersebut masih belum cukup untuk mengatasi kerusakan yang sudah terjadi cukup luas.
Pihak terkait terus memantau perkembangan kondisi pesisir dan menyiapkan langkah mitigasi jangka panjang untuk mengurangi dampak abrasi, termasuk relokasi warga di titik-titik yang paling parah terdampak.
Hingga saat ini, masyarakat pesisir Demak masih hidup dalam kekhawatiran, mengingat garis pantai terus berubah dan ancaman hilangnya rumah tinggal semakin nyata jika tidak ada penanganan yang lebih serius.